Diabetes mellitus tipe-2 merupakan penyakit diabetes mellitus yang tidak bergantung pada insulin. Penyakit ini mengakibatkan stress oksidatif, hal ini disebabkan karena radikal bebas meningkat sehingga menurunkan status antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan aktivitas enzim katalase dan kadar haemoglobin penderita DM tipe-2 yang disuplementasi susu protein kecambah kedelai dan Zn. Metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Responden terdiri dari 24 wanita penderita DMT-2, usia diatas 40 tahun dan banyaknya responden dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu A, B dan C. Setiap perlakuan diulang 8 kali sehingga diperolah 24 unit sampel. Perlakuan yang dicibakan meliputi susu protein kecambah kedelai yang diperkaya Zn untuk kelompok perlakuan A, placebo yang diberi susu tanpa protein kecambah kedelai dan Zn untuk kelompok perlakuan B dan glibenklamid sebagai kontrol untuk kelompok perlakuan C. Masing-masing perlakuan diintervensikan kepada responden setiap hari selama 2 bulan. Pengambilan sampel darah dilakukan saat sebelum intervensi (baseline), satu dan dua bulan setelah intervensi. Variabel yang digunakan adalah pengaruh pemberian susu protein kecambah kedelai dan Zn dibandingkan dengan placebo. Parameter yang diukur adalah aktivitas enzim katalase dan kadar haemoglobin. Pengukuran aktivitas enzim katalase dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV, sedangkan penentuan kadar hemoglobin dilakukan dengan MIKROS 60 OT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian susu protein kecambah kedelai + Zn selama 2 bulan intervensi memberikan pengaruh yang nyata terhadap aktivitas enzim katalase dan mempertahankan kadar normal haemoglobin responden.
NANI MUDRIKAH | B1J005180
Pembimbing I : Dra. Farida Nur Rachmawati, M.Si. | Pembimbing II : Dr. Ir. Hery Winarsi, MS.
Azospirillum sp. JG3 diketahui mampu hidup pada media campuran onggok dan dedak serta menghasilkan enzim ekstraseluler untuk merombak senyawa kompleks pada media tersebut. Kemampuan mikroba tersebut berkaitan dengan adanya peningkatan kandungan nutrien bahan yang difermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Azospirillum sp. JG3 dalam meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak, mengetahui pengaruh waktu inkubasi berbeda terhadap kemampuan Azospirillum sp. JG3 dalam meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak tertinggi. Percobaan dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan waktu inkubasi 0, 3, 4, 5, 6, dan 7 hari. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Azospirillum sp. JG3 mampu meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak. Hal ini diindikasikan dengan adanya peningkatan kadar protein kasar (37,81%), dan penurunan kadar serat kasar (36,63%) selama waktu inkubasi berbeda. Kemampuan Azospirillum sp. JG3 untuk meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak tertinggi diperoleh pada waktu inkubasi 5 hari dengan kadar protein kasar, serat kasar dan lemak kasar masing-masing sebesar 8,95 ± 0,44%, 14,31 ± 0,70% dan 15,53 ± 0,75%.
TATI FEBRIANTI | BIJ005213
Pembimbing I : Drs.Oedjijono, M.Sc. | Pembimbing II : Dr.Ir.Ning Iriyanti, M.P.
Antibiotic was natural chemical product of secondary metabolisme of microorganism that widely used in medical area. Discovery of new antibiotic was continuously performed to solve resistance on existing one of it was mold that associated with a plant called endophyte mold. Medicine plant represent one of criteria for endophyte mold isolate source. Objectives this research was to know type of endophyte mold that has potential as antibiotic producer and to know type of endophyte mold that has potential as antibiotic producer by morphologically or genetically identification. The research was held in Microbiology, Recovery, and Gene Technology Laboratory of Balai Pengkajian Bioteknologi-BPPT PUSPITEK from June 2009 to February 2010. Initial study of antibiotic activity was conducted to know endophyte mold that has antibiotic activity, followed by confirmatory test for antibiotic activity to know whether the mold that showed positive result in initial study also positive in confirmatory test. The endophyte mold then identified morphologically or genetically to know it type. Initial study result of antibiotic activity of 49 isolates tested, there were 18 isolates showed antibiotic activity. Confirmatory test result was 14 isolates showed difference in inhibitory ability. The case showed difference in extraction ability of the endophyte mold in ability to inhibit experimental microbes. BioMCC FE00097 was isolate that has potential as antibiotic producer for inhibit C.albicans. The isolate type was known 100% closely related with Eupenicillium sp. RA403 dan Penicillium sp. RA302 that also represents antibiotic producer.
RANI AFIFAH NUR HESTIYANI | B1J005088
Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S. | Pembimbing II : Evita Chrisnayanti, MBiotech. St.
Tetranychus urticae atau yang umum dikenal sebagai red spider mite adalah tungau fitofag bertubuh lunak yang merupakan salah satu tungau hama utama tanaman singkong. Jenis tanaman yang berbeda kultivarnya dapat menghasilkan laju perkembangan populasi tungau hama yang berbeda pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelulushidupan stadium telur T. urticae pada beberapa kultivar tanaman singkong. Materi yang digunakan adalah tungau hama T. urticae yang diperoleh dari perkebunan singkong di Kabupaten Cilacap. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak (random sampling). Variabel yang diamati meliputi kelulushidupan telur T. urticae dari stadium telur, larva, nimfa hingga dewasa pada beberapa kultivar tanaman singkong, morfologi tanaman singkong yang membedakan antar kultivar dan faktor abiotik diantaranya suhu, kelembapan, dan curah hujan pada lokasi pengambilan sampel. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Model II (Random Model) dan dilanjutkan dengan uji F dan uji beda nyata terkecil (BNT) pada tingkat kesalahan 10% dan 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar tanaman singkong tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan telur T. urticae.
ADI SETIYADI | B1J004056
Pembimbing I : Dr. Bambang Heru Budianto, M.S. | Pembimbing II : Dra.Yayu Widiawati, M.S.
Gracilaria gigas termasuk jenis rumput laut dari kelas Rhodophyceae yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan salah satu jenis rumput laut penghasil agar. Besarnya bobot agar dari Gracilaria sangat tergantung dari jenis, lama perendaman, lama ekstraksi, konsentrasi zat yang digunakan dalam perendaman dan pelembutan, metode ekstraksi yang digunakan dan faktor lingkungan. Penelitian yang dilaksanakan bertujuan untuk mengetahui bobot agar G. gigas sistem tali tunggal dengan metode budidaya dan asam yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola split plot dengan 4 kali ulangan. Main plot adalah metode budidaya yaitu dasar, lepas dasar dan apung, sedangkan sub plot adalah jenis asam yang digunakan yaitu asam sitrat dan ekstrak jeruk nipis. Parameter utama yang diamati berupa bobot agar. Parameter pendukung yang diamati yaitu kualitas agar yang meliputi warna, viskositas, kadar air dan kadar abu. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan metode budidaya dan asam yang berbeda menghasilkan bobot agar yang berbeda nyata. Bobot agar tertinggi diperoleh dari kombinasi perlakuan metode budidaya apung dengan asam sitrat yaitu sebesar 55,68%.
FAJRI NURJANNAH | B1J005077
Pembimbing I : Drs. H. A. Ilalqisny Insan, MS. | Pembimbing II : Hartiwi Diastuti, S.Si, M.Si.
Grifola frondosa (Dicks: Fr) S.F.Gray merupakan salah satu jamur yang memiliki nilai sebagai medicinal mushroom. Kandungan nutrisi yang dimiliki G. frondosa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dikonsumsi dan dijadikan obat herbal. G. frondosa berkhasiat mengobati terhadap beberapa penyakit, seperti leukemia, kanker lambung, diabetes, dan kanker otak. G. fondosa mampu menghasilkan senyawa polisakarida. Polisakarida dapat berfungsi sebagai penyimpan bahan bakar sel dan penyusun struktural dinding sel. Diantara senyawa polisakarida yang dihasilkan ialah 1,6-β-D Glukan dengan rantai sisi 3. Kandungan polisakarida yang dihasilkan G. frondosa dipengaruhi oleh jenis nutrien dalam medium dan lama inkubasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan miselium G. frondosa isolat Cianjur serta mengetahui produksi polisakarida ekstraseluler tertinggi yang ditumbuhan pada media cair PDYB, MYB, MYPB, dan DFB dengan lama inkubasi berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menetapkan dua macam variabel yaitu variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas adalah jenis medium dan lama inkubasi sedangkan variabel tergantungnya adalah pertumbuhan miselium. Parameter utama yang diukur dalam penelitian ini adalah bobot kering miselium dan bobot kering ekstrak polisakarida yang diperoleh. Parameter pendukungnya adalah uji kualitatif polisakarida, pH awal dan pH akhir medium. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian (anova) berdasarkan uji F dan apabila berpengaruh nyata atau berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kesalahan 1% dan 5%.
FITRI WULAN | B1J005208
Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina R.,M.S. | Pembimbing II : Dra.Purnomowati, SU.
Produksi rumput laut Gracilaria gigas di Indonesia, sebagian besar berasal dari panen alami (wild crop) sehingga kelangsungan produksi sulit dikedalikan, baik kuantitas, kualitas dan kontinuitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertambahan berat basah dan produksi Gracilaria gigas yang dibudidayakan dengan sistem tali tunggal dan metode yang berbeda serta menentukan jenis sistem tali tunggal dan metode budidaya yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi Gracilaria gigas tertinggi di perairan Adipala, Cilacap. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Adipala Cilacap pada bulan Mei – Juli 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Split Plot Design dengan empat kali ulangan. Perlakuan main plot yang dicobakan adalah sistem tali tunggal (S) yaitu tali panjang/longline (S1) dan rakit tali tunggal (S2). Sedangkan sebagai sub plot adalah metode (M) yaitu metode apung (M1), lepas dasar (M2) dan dasar (M3). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 10 hst, 20 hst, 30 hst dan 40 hst perbedaan sistem tali tunggal dan metode menunjukkan hasil pertambahan berat basah dan produksi yang berbeda. Perlakuan dengan sistem tali panjang dan metode apung (S1M1) menghasilkan pertambahan berat basah dan produksi G. gigas tertinggi yaitu 2,75 g/hari dan 1605,075 g/m2.
Lisna Khayati | B1J004164
Pembimbing I : Drs. Sarwanto M.Si. | Pembimbing II : Drs. H. A. Ilalqisny Insan M.S.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan gonad dan nilai IKG ikan Brek pada kondisi predomestikasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah survey dengan teknik pengambilan sampel Purposive random sampling. Variabel yang diamati meliputi perkembangan gonad, nilai IKG dan diameter oosit. Parameter pendukung berupa panjang ikan dan bobot ikan serta tahapan spermatogenesis sampel ikan Brek jantan yang diaklimatisasi bersama dengan sampel ikan Brek betina predomestikasi. Pengambilan data dilakukan setelah predomestikasi 3, 4 dan 5 bulan. Ovarium dibuat sediaan histologi dengan metode paraffin dan pewarnaan Mayer’s Hematoxylin dan Eosin. Gambaran histologis tahapan oogenesis dievaluasi berdasarkan Çakici, Ő et al., (2007) dan Nazan et al., (2008), disajikan dalam bentuk gambar, nilai IKG dan diamter oosit ditampilkan dalam bentuk tabel. Berdasarkan hasil pengamatan perkembangan gonad melalui sediaan histologi, perkembangan ovarium ikan Brek dikelompokkan ke dalam 4 tahapan perkembangan yaitu oosit primer (OP), kortikal alveoli (KA), vitelogenik (V) dan maturasi (M). Tahapan perkembangan testis dikelompokkan ke dalam 5 tahapan spermatogenesis yaitu spermatogonia (spg), spermatosit primer (spt p), spermatosit sekunder (spt s), spermatid (spd) dan spermatozoa (spz). Hasil perhitungan IKG periode predomestikasi 3 bulan, 4 bulan dan 5 bulan didapatkan kisaran sebesar 0,32% sampai 12,62%; 0,65% sampai 8,76% dan 0,19% sampai 19,8%. Proporsi tahapan perkembangan pada masingmasing periode predomestikasi relatif sama banyaknya sampai dengan periode predomestikasi 5 bulan. Pada ovarium masih didominasi oleh tahapan oosit primer (OP) sedangkan pada testis didominasi oleh tahapan spermatozoa (spz). Ikan Brek berpotensi untuk dibudidayakan dan predomestikasi sampai dengan 5 bulan tidak berpengaruh terhadap peningkatan bobot tubuh dan nilai IKG ikan Brek.
DENI | B1J005205
Pembimbing I : Drs. Priyo Susatyo M.Si. | Pembimbing II : Prof. Drs. Soeminto S.U.
Familia Lycaenidae merupakan kelompok terbesar kedua dari Sub Ordo mikro Lepidoptera dengan jumlah species mencapai 6000 spesies diseluruh dunia. Kelompok ini juga dijuluki kupu-kupu bersayap halus (The Gossamer Wings), umum dijumpai pada hari yang cerah dan ditempat terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman serta kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Lycaenidae di hutan alami dan hutan tanaman. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan teknik purposive random sampling. Pengambilan kupu-kupu menggunakan kite netting mengikuti garis transek yang dibuat sepanjang 200 m dengan lebar 5 m yang melintang pada 2 tipe hutan yaitu hutan alam dan hutan tanaman, analisis yang digunakan untuk mengetahui karagaman dan kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Lycaenidae adalah indeks Shanon-Winner, indeks Simpson’s, dan indeks Fisher’s Alpha. Penghitungan diperoleh dengan bantuan program BioDiversity Pro sedangkan estimator kekayaan spesies menggunakan CHAO 1. Berdasarkan hasil penangkapan kupu-kupu Familia Lycaenidae ditemukan 14 spesies dengan total individu sebanyak 562. Spesies yang tertangkap adalah Aropala overdijkinki (5 individu), Prosotas dubiosa (26 individu), Dacalana vidura (10 individu), Nacaduba pendleburyi (79 individu), Nacaduba kurava (118 individu), Surendra vivarna (9 individu), Stiboges calycoides (4 individu), Jamides alecto (29 individu), Jamides celeno (99 individu), Jamides cyta vardusia (16 individu), Jamides pura (67 individu), Arhopala muta (16 individu), Heliophorus epicles (72 individu), dan Discolampa ethion (12 individu). Kekayaan spesies dan kelimpahan Familia Lycaenidae lebih tinggi pada hutan tanaman dibandingkan dengan hutan alam, hal ini disebabkan kondisi hutan tanaman yang memiliki intensitas cahaya matahari yang lebih tinggi, sesuai dengan sifat / kebiasaan Familia Lycaenidae yang menyukai cahaya matahari.
ARLENA SATVIKA JUSUF | B1J005074
Pembimbing I : Dr. Imam Widhiono,MZ.,MS. | Pembimbing II : Drs. Edi Basuki, PhD.
Familia Satyridae dikenal juga dengan sebutan Browns (Kecokelatan) termasuk ke dalam subfamily Nymphalidae. Familia ini merupakan kupu-kupu yang memiliki kemampuan terbang yang lemah dan kerap menghindari sinar matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Satyridae di hutan alam dan hutan tanaman. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik purposive random sampling. Pengambilan kupu-kupu dengan membuat garis transek sepanjang 200 m dengan lebar 5 m yang melintang pada 2 tipe hutan yaitu hutan alam dan hutan tanaman dengan menggunakan kite netting, analisis yang digunakan untuk mengetahui karagaman dan kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Satyridae adalah indeks Shanon-Winner, indeks Simpson’s dan indeks Fisher’s Alpha. Hasil penelitian menunjukan bahwa keragaman kupu-kupu Familia Satyridae di hutan tanaman Baturadem relatif lebih tinggi dibandingkan hutan alam dan kelimpahan kupu-kupu Familia Satyridae pada kedua tipe hutan didominansi oleh spesies Melanitis leda dan kelimpahan terendah yaitu Ragadia makuta.
DEVI PANCANINGTYAS | B1J05073
Pembimbing I : Dr. Imam Widhiono,MZ.,MS. | Pembimbing II : Drs. Edi Basuki, PhD.