PRODUKSI POLISAKARIDA EKSTRASELULER MISELIUM Grifola frondosa (Dicks : Fr.) S.F.Gray PADA BERBAGAI MEDIUM CAIR DENGAN LAMA INKUBASI BERBEDA

Grifola frondosa (Dicks: Fr) S.F.Gray merupakan salah satu jamur yang  memiliki nilai sebagai medicinal mushroom. Kandungan nutrisi yang dimiliki G. frondosa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk dikonsumsi dan dijadikan obat herbal. G. frondosa berkhasiat mengobati terhadap beberapa penyakit, seperti leukemia, kanker lambung, diabetes, dan kanker otak. G. fondosa mampu menghasilkan senyawa polisakarida. Polisakarida dapat berfungsi sebagai penyimpan bahan bakar sel dan penyusun struktural dinding sel. Diantara senyawa polisakarida yang dihasilkan ialah 1,6-β-D Glukan dengan rantai sisi 3. Kandungan polisakarida yang dihasilkan G. frondosa dipengaruhi oleh jenis nutrien dalam medium dan lama inkubasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan miselium G. frondosa isolat Cianjur serta mengetahui produksi polisakarida ekstraseluler tertinggi yang ditumbuhan pada media cair PDYB, MYB, MYPB, dan DFB dengan lama inkubasi berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menetapkan dua macam variabel yaitu variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas adalah jenis medium dan lama inkubasi sedangkan variabel tergantungnya adalah pertumbuhan miselium. Parameter utama yang diukur dalam penelitian ini adalah bobot kering miselium dan bobot kering ekstrak polisakarida yang diperoleh. Parameter pendukungnya adalah uji kualitatif polisakarida, pH awal dan pH akhir medium. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian (anova) berdasarkan uji F dan apabila berpengaruh nyata atau berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kesalahan 1% dan 5%.

FITRI WULAN | B1J005208

Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina R.,M.S. | Pembimbing II : Dra.Purnomowati, SU.

PERTAMBAHAN BERAT BASAH DAN PRODUKSI Gracilaria gigas DENGAN DUA SISTEM TALI TUNGGAL PADA TIGA METODE BUDIDAYA DI PERAIRAN ADIPALA CILACAP

Produksi rumput laut Gracilaria gigas di Indonesia, sebagian besar berasal dari panen alami (wild crop) sehingga kelangsungan produksi sulit dikedalikan, baik kuantitas, kualitas dan kontinuitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertambahan berat basah dan produksi Gracilaria gigas yang dibudidayakan dengan sistem tali tunggal dan metode yang berbeda serta menentukan jenis sistem tali tunggal dan metode budidaya yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi Gracilaria gigas tertinggi di perairan Adipala, Cilacap. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Adipala Cilacap pada bulan Mei – Juli 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Split Plot Design dengan empat kali ulangan. Perlakuan main plot yang dicobakan adalah sistem tali tunggal (S) yaitu tali panjang/longline (S1) dan rakit tali tunggal (S2). Sedangkan sebagai sub plot adalah metode (M) yaitu metode apung (M1), lepas dasar (M2) dan dasar (M3). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada umur 10 hst, 20 hst, 30 hst dan 40 hst perbedaan sistem tali tunggal dan metode menunjukkan hasil pertambahan berat basah dan produksi yang berbeda. Perlakuan dengan sistem tali panjang dan metode apung (S1M1) menghasilkan pertambahan berat basah dan produksi G. gigas tertinggi yaitu 2,75 g/hari dan 1605,075 g/m2.

Lisna Khayati | B1J004164

Pembimbing I : Drs. Sarwanto M.Si. | Pembimbing II : Drs. H. A. Ilalqisny Insan M.S.

STRUKTUR GONAD IKAN BREK BETINA (Puntius orphoides C.V.) PADA KONDISI PREDOMESTIKASI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan gonad dan nilai IKG ikan Brek pada kondisi predomestikasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah survey dengan teknik pengambilan sampel Purposive random sampling. Variabel yang diamati meliputi perkembangan gonad, nilai IKG dan diameter oosit. Parameter pendukung berupa panjang ikan dan bobot ikan serta tahapan spermatogenesis sampel ikan Brek jantan yang diaklimatisasi bersama dengan sampel ikan Brek betina predomestikasi. Pengambilan data dilakukan setelah predomestikasi 3, 4 dan 5 bulan. Ovarium dibuat sediaan histologi dengan metode paraffin dan pewarnaan Mayer’s Hematoxylin dan Eosin. Gambaran histologis tahapan oogenesis dievaluasi berdasarkan Çakici, Ő et al., (2007) dan Nazan et al., (2008), disajikan dalam bentuk gambar, nilai IKG dan diamter oosit ditampilkan dalam bentuk tabel. Berdasarkan hasil pengamatan perkembangan gonad melalui sediaan histologi, perkembangan ovarium ikan Brek dikelompokkan ke dalam 4 tahapan perkembangan yaitu oosit primer (OP), kortikal alveoli (KA), vitelogenik (V) dan maturasi (M). Tahapan perkembangan testis dikelompokkan ke dalam 5 tahapan spermatogenesis yaitu spermatogonia (spg), spermatosit primer (spt p), spermatosit sekunder (spt s), spermatid (spd) dan spermatozoa (spz). Hasil perhitungan IKG periode predomestikasi 3 bulan, 4 bulan dan 5 bulan didapatkan kisaran sebesar 0,32% sampai 12,62%; 0,65% sampai 8,76% dan 0,19% sampai 19,8%. Proporsi tahapan perkembangan pada masingmasing periode predomestikasi relatif sama banyaknya sampai dengan periode predomestikasi 5 bulan. Pada ovarium masih didominasi oleh tahapan oosit primer (OP) sedangkan pada testis didominasi oleh tahapan spermatozoa (spz). Ikan Brek berpotensi untuk dibudidayakan dan predomestikasi sampai dengan 5 bulan tidak berpengaruh terhadap peningkatan bobot tubuh dan nilai IKG ikan Brek.

DENI | B1J005205

Pembimbing I : Drs. Priyo Susatyo M.Si. | Pembimbing II : Prof. Drs. Soeminto S.U.

KEANEKARAGAMAN FAMILIA LYCAENIDAE (LEPIDOPTERA) DI HUTAN BATURRADEN BKPH GUNUNG SLAMET BARAT KPH BANYUMAS TIMUR

Familia Lycaenidae merupakan kelompok terbesar kedua dari Sub Ordo mikro Lepidoptera dengan jumlah species mencapai 6000 spesies diseluruh dunia. Kelompok ini juga dijuluki kupu-kupu bersayap halus (The Gossamer Wings), umum dijumpai pada hari yang cerah dan ditempat terbuka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman serta kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Lycaenidae di hutan alami dan hutan tanaman. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan teknik purposive random sampling. Pengambilan kupu-kupu menggunakan kite netting mengikuti garis transek yang dibuat sepanjang 200 m dengan lebar 5 m yang melintang pada 2 tipe hutan yaitu hutan alam dan hutan tanaman, analisis yang digunakan untuk mengetahui karagaman dan kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Lycaenidae adalah indeks Shanon-Winner, indeks Simpson’s, dan indeks Fisher’s Alpha. Penghitungan diperoleh dengan bantuan program BioDiversity Pro sedangkan estimator kekayaan spesies menggunakan CHAO 1. Berdasarkan hasil penangkapan kupu-kupu Familia Lycaenidae ditemukan 14 spesies dengan total individu sebanyak 562. Spesies yang tertangkap adalah Aropala overdijkinki (5 individu), Prosotas dubiosa (26 individu), Dacalana vidura (10 individu), Nacaduba pendleburyi (79 individu), Nacaduba kurava (118 individu), Surendra vivarna (9 individu), Stiboges calycoides (4 individu), Jamides alecto (29 individu), Jamides celeno (99 individu), Jamides cyta vardusia (16 individu), Jamides pura (67 individu), Arhopala muta (16 individu), Heliophorus epicles (72 individu), dan Discolampa ethion (12 individu). Kekayaan spesies dan kelimpahan Familia Lycaenidae lebih tinggi pada hutan tanaman dibandingkan dengan hutan alam, hal ini disebabkan kondisi hutan tanaman yang memiliki intensitas cahaya matahari yang lebih tinggi, sesuai dengan sifat / kebiasaan Familia Lycaenidae yang menyukai cahaya matahari.

ARLENA SATVIKA JUSUF | B1J005074

Pembimbing I : Dr. Imam Widhiono,MZ.,MS. | Pembimbing II : Drs. Edi Basuki, PhD.

KERAGAMAN KUPU-KUPU FAMILIA SATYRIDAE DI HUTAN BATURRADEN BKPH GUNUNG SLAMET BARAT KPH BANYUMAS TIMUR

Familia Satyridae dikenal juga dengan sebutan Browns (Kecokelatan) termasuk ke dalam subfamily Nymphalidae. Familia ini merupakan kupu-kupu yang memiliki kemampuan terbang yang lemah dan kerap menghindari sinar matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Satyridae di hutan alam dan hutan tanaman. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik purposive random sampling. Pengambilan kupu-kupu dengan membuat garis transek sepanjang 200 m dengan lebar 5 m yang melintang pada 2 tipe hutan yaitu hutan alam dan hutan tanaman dengan menggunakan kite netting, analisis yang digunakan untuk mengetahui karagaman dan kelimpahan spesies kupu-kupu Familia Satyridae adalah indeks Shanon-Winner, indeks Simpson’s dan indeks Fisher’s Alpha. Hasil penelitian menunjukan bahwa keragaman kupu-kupu Familia Satyridae di hutan tanaman Baturadem relatif lebih tinggi dibandingkan hutan alam dan kelimpahan kupu-kupu Familia Satyridae pada kedua tipe hutan didominansi oleh spesies Melanitis leda dan kelimpahan terendah yaitu Ragadia makuta.

DEVI PANCANINGTYAS | B1J05073

Pembimbing I : Dr. Imam Widhiono,MZ.,MS. | Pembimbing II : Drs. Edi Basuki, PhD.

KEMAMPUAN Azospirillum sp. PRD2 DALAM FERMENTASI CAMPURAN DEDAK DAN ONGGOK PADA WAKTU INKUBASI YANG BERBEDA DITINJAU DARI KANDUNGAN NUTRIEN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu inkubasi berbeda terhadap kemampuan Azospirillum sp. PRD2 dalam memfermentasi campuran onggok dan dedak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang disusun menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan berupa waktu inkubasi 0 hari, 3 hari, 4 hari, 5 hari, 6 hari, dan 7 hari, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varians (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99%, dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu inkubasi berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap peningkatan kandungan nutrien campuran onggok dan dedak yang difermentasi oleh Azospirillum sp. PRD2. Peningkatan kandungan nutrien mencakup peningkatan kadar protein kasar sebesar 24,2%; penurunan serat kasar dan lemak kasar masing-masing sebesar 45,32% dan 4,72%. Waktu inkubasi terbaik yang diperlukan Azospirillum sp. PRD2 dalam meningkatkan kandungan nutrien dedak dan onggok tertinggi adalah 5 hari.

IKA SETYOWATI | B1J005101

Pembimbing I : Drs. Oedjijono, M.Sc. | Pembimbing II : Dr. Ir. Ning Iriyanti, M.P.

PREFERENSI MAKANAN KEPITING MANGROVE Cardisoma carnifex YANG TERTANGKAP DI HUTAN MANGROVE MUARA SUNGAI DONAN SEGARA ANAKAN CILACAP

Makanan merupakan faktor pembatas bagi ukuran populasi, pertumbuhan dan kondisi organisme. Penelitian berjudul “Preferensi Makanan Kepiting Mangrove Cardisoma carnifex yang Tertangkap di Hutan Mangrove Muara Sungai Donan Segara Anakan Cilacap” bertujuan untuk mengetahui preferensi makanan C. carnifex, hubungan antara keberadaan C. carnifex dan sumber makanan C. carnifex dengan kondisi lingkungan. Lokasi penelitian berada di kawasan hutan mangrove muara Sungai Donan Segara Anakan Cilacap, pada koordinat 108°59’186’’BT-07°43’812’’LS. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling sepanjang zona mangrove dari bibir pantai sampai dengan perbatasan hutan mangrove. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak empat kali terdiri dari dua kali saat pasang purnama dan perbani. Preferensi makanan ditunjukkan dengan analisis lambung dan vegetasi yang menghasilkan Indeks Pilihan (Selection Index). Kualitas sumber makanan ditentukan dengan rasio karbon nitrogen (CN ratio) dan analisis isotop vegetasi sumber makanan. Kondisi lingkungan yaitu suhu, salinitas, penetrasi cahaya, pH tanah dan jenis tekstur substrat dianalisis secara deskriptif. Hubungan antara keberadaan C. carnifex dan sumber makanan C. carnifex dengan kondisi lingkungan dievaluasi dengan analisis korelasi berdasarkan Pearson Product Moment Correlation pada program Minitab 12. Preferensi makanan C. carnifex terdiri atas sumber nabati seperti material tumbuhan Hibiscuss tiliaceus dan Derris trifoliata yang memiliki nilai nutrisi rendah, sehingga memungkinkan bagi C. carnifex memakan jenis material lain selain tumbuhan/nabati untuk memenuhi kebutuhan nitrogen tubuhnya sebagai opportunistic omnivora. Keberadaan C. carnifex dan sumber makanan C. carnifex dengan kondisi lingkungan tergantung terhadap kondisi lingkungan.

YUNI YUMIARTI | B1J003005

Pembimbing I : Dr.rer.nat. Moh. Husein Sastranegara, M.Si. | Pembimbing II : Prof. Edy Yuwono, Ph.D.

KEMAMPUAN Monascus purpureus MENGHASILKAN ZAT WARNA ANGKAK DALAM MEDIUM LIMBAH CAIR TAHU DENGAN PENAMBAHAN AMONIUM NITRAT PADA BEBERAPA WAKTU INKUBASI

Pewarna buatan makanan menimbulkan banyak gangguan kesehatan jika dikonsumsi secara terus-menerus. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan pewarna alami yang tidak membahayakan kesehatan konsumen. Pewarna alami yang dihasilkan oleh mikroorganisme berupa kapang dikenal dengan zat warna angkak. Monascus purpureus merupakan salah satu kapang yang dapat menghasilkan zat warna angkak dalam medium limbah cair tahu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara konsentrasi amonium nitrat dengan waktu inkubasi terhadap produksi zat warna angkak oleh M. purpureus dalam medium limbah cair tahu serta konsentrasi amonium nitrat dan lama waktu inkubasi yang paling baik untuk M. purpureus menghasilkan zat warna angkak dalam medium limbah cair tahu. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor, yaitu konsentrasi amonium nitrat dan waktu inkubasi. Konsentrasi amonium yang diujikan dalam penelitian adalah 0%, 0,075%, 0,15% dan 0,225%. Waktu inkubasi yang digunakan adalah yaitu 0, 6, 9, 12, dan 15 hari. Setiap perlakuan diulang 2 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode analisis ragam (uji F) pada tingkat kepercayaan 95% dan 99% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi antara konsentrasi amonium nitrat dengan waktu inkubasi tidak berpengaruh, penambahan amonium nitrat tidak berpengaruh secara signifikan, dan waktu inkubasi berpengaruh terhadap produksi zat warna angkak oleh M. purpureus dalam medium limbah cair tahu. Waktu inkubasi yang paling baik untuk M. purpureus menghasilkan zat warna angkak intraseluler dalam medium limbah cair tahu adalah 6 hari dengan kadar rata-rata sebesar 0,0573 Unit Absorbansi (UA), sedangkan zat warna angkak ekstraselulernya adalah 9 hari dengan kadar rata-rata sebesar 0,8221 UA.

ANDINNA VITRI SUNDARI | B1J004163

Pembimbing I : Drs. Aris Mumpuni, M.Phil. | Pembimbing II : Drs. Slamet Priyanto, M.S.

AKTIVITAS ANTITUMOR POLISAKARIDA EKSTRASELULER MISELIUM Ganoderma lucidum ISOLAT INDIGENOUS YANG DITUMBUHKAN PADA MEDIUM YANG BERBEDA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antitumor polisakarida ekstraseluler G. lucidum isolat indigenous pada berbagai medium melalui uji Brine Shrimp Lethality Test (BST) serta mengetahui aktivitas antitumor yang paling baik dari polisakarida ekstraseluler G. lucidum isolat indigenous yang dihasilkan dari medium tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan May 2009 sampai Januari 2010 menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah penumbuhan miselium G. lucidum pada 4 medium, yaitu Potato Dextrose Yeast Broth (PDYB), Malt extract Peptone Broth (MEPB), Malt Yeast Broth (MYB), dan Dog Food Broth (DFB) kemudian diujikan aktivitas antitumornya menggunakan metode BST. Pengamatan dilakukan setelah 24 jam pemberian ekstrak, kemudian dilakukan analisis probit untuk mengetahui nilai LC 50. Parameter utama yang diamati yaitu jumlah larva yang hidup dari setiap perlakuan sedangkan parameter pendukungnya berupa bobot kering miselium, bobot kering ekstrak polisakarida ekstraseluler dan pH akhir medium. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis medium berpengaruh terhadap pertumbuhan miselium dan produksi polisakarida ekstraselulernya, bobot kering polisakarida ekstraseluler tertinggi diperoleh dari medium MEPB sebesar 0,5382 g/150 ml. Pengujian BST menunjukan bahwa perlakuan yang memiliki sifat tok sik diperoleh dari polisakarida ekstraseluler G. lucidum yang ditumbuhkan pada medium PDYB, MEPB dan MYB dengan nilai LC50-nya berturut-turut adalah 891,25 ppm; 870,96 ppm dan 549,54 ppm, sedangkan polisakarida ekstraseluler yang tidak toksik diperoleh dari medium DFB dengan nilai LC50 sebesar 1253,14 ppm.

INDRA PERMANA | B1J005131

Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S. | Pembimbing II : Hartiwi Diastuti, S,Si., M.Si.

KEANEKARAGAMAN DAN ETNOBOTANI GULMA DI PERSAWAHAN KECAMATAN POLANHARJO KABUPATEN KLATEN

Pada lahan Persawahan Polanharjo banyak dijumpai berbagai jenis gulma yang belum diteliti keanekaragaman dan nilai etnobotaninya, maka dilakukan penelitian dengan judul “Keanekaragaman dan Etnobotani Gulma di Persawahan Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis dan etnobotani gulma yang terdapat pada lahan persawahan di Polanharjo. Penelitian menggunakan metode survai, teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak terpilih yaitu dengan menggunakan metode kuadrat dan metode uraian terstruktur terhadap responden untuk mengetahui etnobotani gulma. Responden adalah masyarakat desa setempat yang banyak mengetahui dan memanfaatkan gulma. Tempat pengambilan sampel di 9 kelurahan, masing-masing kelurahan diambil 10 lahan persawahan dan dibuat 5 petak berukuran 1×1 m. Jenis gulma yang terdapat di persawahan Polanharjo (digunakan oleh masyarakat sekitar) dicatat jumlah individu dan gulma yang belum diketahui namanya diidentifikasi, diklasifikasikan secara taksonomi maupun berdasarkan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, serta cara pemanfaatannya. Hasil penelitian menunjukkan gulma yang ditemukan pada lahan persawahan Polanharjo berjumlah 62 jenis dan terdiri dari 24 suku dan 45 marga. Jenis gulma banyak digunakan sebagai obat, sayuran, tanaman hias, dan makanan ternak oleh masyarakat Polanharjo.

DEFI SETYOWATI | B1J005146

Pembimbing I : Dra. Yayu Widiawati, MS. | Pembimbing II : Drs.Edy Purwono Hadi, MP.