AKTIVITAS ANTITUMOR POLISAKARIDA EKSTRASELULER Ganoderma lucidum INDIGENOUS DENGAN MASA INKUBASI YANG BERBEDA PADA GANODERMA MEDIUM COMPLEX

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antitumor polisakarida ekstraseluler (EPS) Ganoderma lucidum pada waktu inkubasi yang berbeda (14, 21, 28, dan 35 hari) serta untuk mengetahui waktu inkubasi paling baik dalam menunjukkan aktivitas antitumornya. Parameter utama yang diamati berupa kematian larva Artemia salina; parameter pendukungnya yaitu bobot kering miselium, bobot kering EPS dan pH akhir medium. Tahap pertama penelitian ini yaitu peremajaan isolat, pembuatan medium, inokulasi isolat ke medium, ekstraksi, uji kualitatif ekstrak dan uji aktivitas antitumor. Aktivitas antitumor dapat diketahui dengan menguji ekstrak polisakarida yang diperoleh menggunakan Brine Shrimp Lethality Test (BST). Larva A. salina digunakan sebagai hewan uji pada BST. Seri konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu 62,5; 125; 250; 500; dan 1000 µg/ml. Hasil dari uji berupa persentase kematian larva, kemudian dilakukan analisis probit untuk mencari nilai LC50. Hasil penelitian menunjukkan nilai LC50 polisakarida ekstraseluler pada inkubasi 14, 21, 28, dan 35 hari berturut-turut sebesar 2041,7; 801,7; 588,8; dan 776,2 µg/ml. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa waktu inkubasi yang menunjukkan aktivitas antitumor terbaik yaitu pada inkubasi 28 hari.

NURHADI WIJAYA SAPUTRA | B1J005219

Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S. | Pembimbing II : Hartiwi  Diastuti,  S.Si., M.Si.

KEMAMPUAN ISOLAT Acetobacter xylinum DALAM FERMENTASI NATA DARI KULIT PISANG PADA SUHU LINGKUNGAN BERBEDA

Nata dari kulit pisang berpotensi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis karena selain pembuatannya mudah dan sederhana juga menggunakan bahan baku limbah yang tidak bermanfaat. Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pembentukan nata yaitu suhu. Suhu ideal bagi pertumbuhan A. xylinum yaitu 28 – 31 °C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu lingkungan inkubasi terhadap pembentukan nata dari kulit pisang oleh  A. xylinum dan suhu inkubasi optimum yang diperlukan oleh  Acetobacter xylinum dalam pembentukan nata terbaik. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), perlakuan  terdiri dari 4 lokasi kisaran suhu lingkungan berbeda (Baturaden, Rempoah, Purwokerto, dan Cilacap). Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan suhu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap pembentukan nata dari kulit pisang oleh A. xylinum. Suhu lingkungan inkubasi optimum yang diperlukan oleh  A. xylinum dalam pembentukan nata dari kulit pisang terbaik adalah di Cilacap dengan suhu rata-rata 29 ºC.

NURFITRI ASTUTI | BIJ005196

Pembimbing I : Dra. Dyah Fitri Kusharyati, MP. | Pembimbing II : Drs. Oedjijono, M.Sc.

HEMATOLOGI IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) PADA SIKLUS PEMUASAAN DAN PEMBERIAN PAKAN KEMBALI

Pembatasan pakan pada ikan dapat mempengaruhi kondisi fisiologis ikan yang mencakup perubahan hematologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hematologi ikan patin (Pangasius hypopthalmus) yang diinduksi dengan siklus pemuasaan dan pemberian pakan kembali. Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan. Perlakuan tersebut terdiri atas ikan yang diberi pakan setiap hari (P0), ikan yang dipuasakan 2 hari dan diberi pakan 5 hari dalam seminggu (P1) dan ikan dipuasakan 1 hari diikuti dengan pemberian pakan 2 dan 3 hari secara bergantian (P2). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah hematologi ikan patin dengan parameter berupa jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit dan osmolalitas plasma darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah eritrosit tidak berbeda antar perlakuan (P>0,05) dengan nilai tertinggi pada  P0 (2,50×106 ± 1,32×106 sel/mm3) dan nilai terendah pada P1 (1,99×106 ± 0,78×106 sel/mm3). Jumlah leukosit tidak berbeda antar perlakuan (P>0,05) dengan P0 (547,23×103 ± 141,93×103 sel/mm3) lebih tinggi daripada P1 dan P2. Kadar hemoglobin dipengaruhi pemuasaan (P<0,05). Kadar hemoglobin tertinggi pada P0 (10,86±1,04 g/dL) dan terendah pada P1 (9,53±0,43 g/dL). Nilai hematokrit P0 tidak signifikan antar perlakuan (P>0,05) dengan nilai tertinggi pada P0 (39,83±10,2%)  dan nilai terendah pada P2 (34,5±5,20 %). Nilai Osmolalitas plasma juga tidak dipengaruhi pemuasaan secara periodik (P>0,05) dengan P1 (315,5±50,7 mOsm/kg) lebih tinggi dari pada P0 dan P2. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa ikan patin yang mengalami pemuasaan dan pemberian pakan kembali tidak mempengaruhi profil darah yang meliputi jumlah eritrosit, jumlah leukosit, hemoglobin, hematokrit dan osmolalitas plasma  darah (P>0,05). Oleh karena itu strategi pakan dengan pemuasaan ini dapat diterapkan dalam budidaya ikan guna mengurangi biaya produksi.

NUR  FATIMAH  PUSPITASARI | BIJ005120

Pembimbing I : Prof. Edy Yuwono, Ph.D | Pembimbing II : Drs. Untung Susilo, MS.

STUDI KARAKTER ANATOMI AKAR DAN DAUN ECENG GONDOK (Eichornia crassipes (Mart.) Solm) PADA KAWASAN SUNGAI YANG TERCEMAR DI KOTA PEKALONGAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi akar dan daun Eichornia crassipes (Mart.) Solms. yang hidup di kawasan Sungai Banger dan Sengkarang, Kota Madya Pekalongan. Metode penelitian ini adalah survei, materi yang digunakan adalah akar dan daun E. crassipes (Mart.) Solms. Pembuatan preparat anatomi daun dan akar menggunakan metode parafin, pewarnaan dengan safranin 1% dalam alkohol 70%. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat karakter anatomi akar dan daun dari dua sungai yang berbeda yaitu Sungai Banger dan Sungai Sengkarang, dan uji t digunakan untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi akar dan daun. Sedangkan parameter yang diamati yaitu karakter anatomi daun yang meliputi tebal kutikula, kerapatan stomata, ukuran stomata, tebal daun, tebal mesofil daun dan karakter anatomi akar meliputi tebal epidermis dan diameter jaringan pengangkut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. crassipes (Mart.) Solms. yang hidup pada sungai tercemar limbah cair batik mengalami perbedaan yang sangat nyata pada karakter tebal daun, tebal mesofil daun, dan tebal epidermis akar.

SALMAN FARISI | B1J005145

Pembimbing I : Drs. Sumarsono, M.Si. | Pembimbing II : Dra. Siti Samiyarsih, M.Si.

PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK Eichhornia crassipes DAN Salvinia molesta PADA KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI Spirulina platensis KULTUR SKALA LABORATORIUM

Spirulina platensis telah digunakan sebagai salah satu sumber pangan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Kandungan protein pada spirulina sp berkisar antara 63-68 %, karbohidrat 13-20 %, dan lemak 2-3 % . S. platensis telah banyak digunakan sebagai pakan alami berbagai  organisme perairan dari zooplankton sampai larva ikan, kepiting dan udang. Mikroalga ini tidak mengandung racun dan seluruh selnya mengandung bahan nutrisi. Penelitian yang berjudul ”Pengaruh Penambahan Ekstrak gulma Eichhornia crassipes dan Salvinia molesta Pada Berbeda Terhadap Pertumbuhan Populasi Spirulina platensis Kultur Skala Laboratorium” bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ekstrak gulma E. crassipes dan S. molesta, terhadap pertumbuhan populasi Spirulina platensis. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Biologi Akuatik Fakultas Biologi  Unuversitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, dengan rancangan acak lengkap, terdiri dari 5 perlakuan dan masing-masing diulang 3 kali. Faktor yang dicobakan adalah penambahan konsentrasi ekstrak gulma E. crassipes dan S. molesta dengan taraf 100 ml/l, 200 ml/l, 300 ml/l, 400 ml/l dan 500 ml/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi ekstrak gulma E. crassipes dan S. molesta pada media kultur berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan populasi S. platensis. Penambahan ekstrak gulma E. crassipes 500 ml/l merupakan tingkat konsentrasi ekstrak palin baik untuk pertumbuhan S. platensis.

HENDRA WIGUNA | B1J005218

Pembimbing I : Dra. Christiani, M.Si. | Pembimbing II : Dra. Dwi Sunu Widyartini, M.Si.

MORFOMETRIK DAN KEKERABATAN FENETIK FAMILIA Cyprinidae YANG TERTANGKAP DI SUNGAI MENGAJI KABUPATEN BANYUMAS

Penelitian berjudul “Morfometrik dan Kekerabatan Fenetik Familia Cyprinidae yang Tertangkap di Sungai Mengaji Kabupaten Banyumas” bertujuan untuk mengetahui jumlah spesies, karakter morfometrik dan kekerabatan  fenetik ikan familia Cyprinidae yang tertangkap di Sungai Mengaji. Metode penelitian yang digunakan adalah survey dan pengambilan sampel secara Purposive Random Sampling di sepanjang aliran sungai Mengaji. Karakter morfometrik diamati berdasarkan jarak Truss kemudian dianalisis menggunakan uji F dengan faktor kesalahan 1% dan 5%. Apabila hasilnya berbeda nyata atau sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT. Kedekatan hubungan kekerabatan dari beberapa spesies ikan sampel dihitung berdasarkan nilai koefisien asosiasi. Data kesamaan morfologi dari spesies ikan yang diperoleh yang termasuk dalam familia Cyprinidae dianalisis Cluster menggunakan program NTSYS 1.80i, untuk memperoleh fenogram kekerabatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah Sungai Mengaji Kabupaten Banyumas ditemukan sebanyak 5 spesies yang termasuk dalam familia Cyprinidae, yaitu Puntius javanicus (ikan Tawes), Puntius orphoides (ikan Brek), Puntius binotatus (ikan Benteur), Osteochilus hasselti (ikan Nilem), Rasbora argyrotaenia (ikan Lunjar). Karakter Truss yang dapat digunakan untuk membedakan ketiga genus tersebut adalah karakter truss B2, B3, C1, C4 dan C5; sedangkan untuk hubungan kekerabatan terdekat adalah antara Puntius javanicus dan Puntius orphoides dengan nilai koefisien asosiasi (rs) = 0,736, sedangkan hubungan kekerabatan terjauh adalah antara Rasbora argyrotaenia Blkr dan Puntius javanicus Blkr dengan nilai koefisien asosiasi (rs) = 0,102.

TACHTA ISLAMI | BIJOO3113

Pembimbing I : Dra. Dian Bhagawati, M.Si. | Pembimbing II : Drs. Muh. Nadjmi Abulias, MS

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA AKLIMATISASI MOSS DAN ARANG SEKAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT ANGGREK Cattleya sp.

Penelitian ini mengamati pengaruh komposisi media moss dan arang sekam terhadap pertumbuhan bibit anggrek Cattleya sp. serta untuk mengetahui komposisi rasio media moss dan arang sekam yang paling baik untuk pertumbuhan bibit anggrek Cattleya sp. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah bibit anggrek Cattleya sp., media tanam anggrek (moss dan arang sekam), pupuk dan pestisida. Penelitian dilakukan secara experimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan yang dicobakan adalah rasio penggunaan media moss dan arang sekam dengan 5 macam rasio dan masing-masing perlakuan diulang 5 kali, yaitu M1: moss 100%, arang sekam 0%, M2: moss 0%, arang sekam 100%, M3: moss 75%, arang sekam 25%, M4: moss 50%, arang sekam 50%, dan M5: moss 25%, arang sekam 75%. Parameter utama dalam penelitian ini adalah panjang daun, lebar daun, jumlah akar, panjang akar, jumlah anakan. Parameter pendukungnya yaitu suhu, intensitas cahaya, kelembapan dan kandungan N, P, K dari media moss dan arang sekam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media moss dan arang sekam tidak mempengaruhi pertumbuhan bibit anggrek Cattleya sp. pada masa aklimatisasi. Tetapi hasil pengamatan secara fisual memperlihatkan bahwa media M2 (0% moss, 100% arang sekam) merupakan media yang mempunyai kecenderungan baik untuk pertumbuhan vegetatif yaitu panjang daun, lebar daun dan jumlah anakan Cattleya sp.

AYU JUNITA D.I.N.A.R | B1J005123

Pembimbing I : Dra. Kamsinah, M.P. | Pembimbing II : Drs. Rochmatino, M.Si.

KEMAMPUAN ISOLAT Acetobacter xylinum DALAM FERMENTASI NATA MENGGUNAKAN SUBSTRAT LIMBAH TAHU PADA pH BERBEDA

Limbah cair tahu umumnya masih mengandung nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat dan bahan-bahan anorganik, sehingga dapat digunakan untuk media fermentasi nata. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan  Acetobacter xylinum adalah nutrisi, sumber karbon, nitrogen, pH, temperatur dan oksigen. Bakteri ini memiliki kisaran pH antara 3,5 – 7,5. Penelitian ini bertujuan untuk mengeahui pengaruh pH terhadap fementasi nata de soya oleh isolat A. xylinum dengan menggunakan substrat limbah tahu, mengetahui pH optimum yang diperlukan A. xylinum dalam menghasilkan nata de soya dengan kualitas yang paling baik. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan adalah lima macam  variasi pH yaitu 3,3; 3,8; 4.3; 4.8; 5,3, dan setiap perlakuan diulang 3 kali, Data dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) dan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pH  berpengaruh sangat nyata terhadap produksi nata de soya, pH optimum untuk pertumbuhan A. xylinum adalah pH 3,3 dengan volume sisa media 304.7 ± 47.1 ml; ketebalan 3.167 ±  0.603 gr;  biomassa 201.657± 33.058 gr, disimpulkan bahwa semakin tinggi pH produksi selulosa semakin menurun, pH 5,3 merupakan pH minimum dalam menghasilkan nata yang ditunjukkan dengan ketebalan nata terendah.

DANING YOGHIAPISCESSA | B1J005022

Pembimbing I : Dra. Dyah Fitri Kusharyati, MP. | Pembimbing II : Drs. Oedjijono, M.Sc.

BIODELIGNIFIKASI BEBERAPA JENIS KAYU OLEH JAMUR SHIITAKE (Lentinula edodes (Berk.) Pegler) DENGAN WAKTU INKUBASI YANG BERBEDA

Shiitake (Lentinula edodes (Berk.) Pegler) merupakan salah satu jenis jamur edibel yang selain dikonsumsi juga digunakan sebagai bahan obat. Dalam pembudidayaannya, jamur shiitake dapat ditumbuhkan pada serbuk gergaji kayu yang mengandung lignoselulosa. Sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara jenis kayu dengan waktu inkubasi terhadap kemampuan biodelignifikasi jamur shiitake dan mengetahui nteraksi antara jenis kayu dan waktu inkubasi yang paling efektif untuk biodelignifikasi jamur shiitake telah dilakukan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor I adalah 3 (tiga) macam serbuk gergaji kayu yaitu kayu jati, sengon dan karet sebagai medium tanam dan faktor II adalah 4 waktu inkubasi yang berbeda yaitu 0, 20, 40 dan 60 hari. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F), kemudian dilanjutkan dengan Uji BNT pada tingkat kesalahan 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kayu dengan waktu inkubasi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar lignin akhir, namun secara mandiri jenis kayu yang digunakan (jati, sengon dan karet) dan waktu inkubasi yang berbeda (0, 20, 40 dan 60) hari berpengaruh nyata terhadap persentase kadar lignin akhir. Biodelignifikasi oleh jamur shiitake paling efektif pada medium dari serbuk gergajian kayu karet yaitu rata-rata sebesar 23,26505% dan waktu inkubasi 60 hari yaitu rata-rata sebesar 19,12954%.

ASIH RYAN YUNIASIH | B1J005103

Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S. | Pembimbing II : Dra. Purnomowati, S.U.

Shiitake (Lentinula edodes (Berk.) Pegler) merupakan salah satu jenis jamur edibel yang selain dikonsumsi juga digunakan sebagai bahan obat. Dalam pembudidayaannya, jamur shiitake dapat ditumbuhkan pada serbuk gergaji kayu yang mengandung lignoselulosa. Sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara jenis kayu dengan waktu inkubasi terhadap kemampuan biodelignifikasi jamur shiitake dan mengetahui nteraksi antara jenis kayu dan waktu inkubasi yang paling efektif untuk biodelignifikasi jamur shiitake telah dilakukan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor I adalah 3 (tiga) macam serbuk gergaji kayu yaitu kayu jati, sengon dan karet sebagai medium tanam dan faktor II adalah 4 waktu inkubasi yang berbeda yaitu 0, 20, 40 dan 60 hari. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F), kemudian dilanjutkan dengan Uji BNT pada tingkat kesalahan 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kayu dengan waktu inkubasi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar lignin akhir, namun secara mandiri jenis kayu yang digunakan (jati, sengon dan karet) dan waktu inkubasi yang berbeda (0, 20, 40 dan 60) hari berpengaruh nyata terhadap persentase kadar lignin akhir. Biodelignifikasi oleh jamur shiitake paling efektif pada medium dari serbuk gergajian kayu karet yaitu rata-rata sebesar 23,26505% dan waktu inkubasi 60 hari yaitu rata-rata sebesar 19,12954%.

KERAGAMAN JENIS TUMBUHAN PAKU DI HUTAN GUNUNG SLAMET JALUR PENDAKIAN BATURRADEN

Kondisi hutan Gunung Slamet yang memiliki kelembaban dan curah hujan yang tinggi merupakan kondisi yang sesuai bagi keberlangsungan hidup tumbuhan paku. Penelitian berjudul ”Keragaman Jenis Tumbuhan Paku di Hutan Gunung Slamet Jalur Pendakian Baturraden” ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis dan persebaran tumbuhan paku yang terdapat di hutan gunung Slamet jalur pendakian Baturraden, Banyumas. Materi yang digunakan yaitu semua jenis tumbuhan paku yang ditemukan sepanjang jalur pendakian Baturraden, Banyumas mulai dari ketinggian dari 800–2.400 m dpl. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survai dengan pengambilan sampel secara eksploratif berdasarkan level ketinggian. Jalur pendakian sebagai transek utama, dan pada ketingian 800 meter dpl, 1.100 meter dpl, 1.600 meter dpl, 2.000 meter dpl, dan 2.400 meter dpl dibuat sub transek, sub transek melintang pada transek utama dengan panjang kanan 20 meter dan kiri 20 meter. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan ciri morfologi tumbuhan paku yang ditemukan pada lokasi penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 51 jenis tumbuhan paku yang termasuk dalam 11 suku. Persebaran tumbuhan paku di hutan gunung Slamet jalur pendakian Baturraden, sangat bervariasi yaitu enam jenis memiliki tingkat persebaran paling tinggi dengan frekuensi 50%-70%; 25 jenis memiliki tingkat persebaran sedang dengan frekuensi 30%-40% dan 20 jenis memiliki persebaran terbatas dengan frekuensi 10%-20%.

JOKO SUNGKONO | BIJ003112

Pembimbing I : Dra. Yayu Widiawati, MS | Pembimbing II : Dra. Titi Chasanah, MP