
Peserta KKTM 2009 Fabio UNSOED
Salah satu rangkaian acara Pekan Olahraga Seni dan Ilmiah (POSI) adalah diselenggarakannya Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM). Sebanyak 12 tim (judul) berkompetisi dalam ajang ilmiah di lingkup Fakultas Biologi pada tahun 2009 ini.
Dewan Juri Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) Fakultas Biologi Unsoed dalam rangka POSI Tahun 2009 yang terdiri atas;
- Dr. Bambang Heru Budianto, MS (Ketua)
- Drs. Indarmawan, MS. (Anggota)
- Drs. Agus Hery Susanto, MS (Anggota).
Setelah melakukan penilaian secara langsung kepada peserta KKTM dalam rangka Pekan Olah raga, Seni, dan Ilmiah (POSI) Fakultas Biologi Unsoed, maka dalam sidangnya, Dewan Juri telah memutuskan dan menetapkan juaranya sebagai berikut :
JUARA I
PEMANFAATAN KULIT PISANG AMBON KUNING (Musa paradisiaca var. Sapientum) SEBAGAI CAMPURAN PAKAN UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS LARVA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy Lac.)
Swastika Oktavia B1J007103, Linawati Agustien B1J007139, Widhita Purwandari B1J007182
Dosen Pembimbing : Dra. Gratiana Eka Wijayanti, M.Rep. Sc., Ph.D
JUARA II
SISTEM TAMBAK TERPADU SEBAGAI UPAYA BUDIDAYA PERIKANAN BERKELANJUTAN
Diah Tri Utami B1J007027, Afifah Nur Shobah B1J007026
Dosen Pembimbing : Dr.rer.nat. Erwin Riyanto Ardli, S.Si, M.Sc
JUARA III
KEBUN TANAMAN OBAT HERBA BATURRADEN SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN MASYARAKAT SEHAT BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL
Tantri Analisawati B1J007022, Sarah Febriani B1J007024
Dosen Pembimbing : Dr. Dwi Nugroho Wibowo, M.S
JUARA HARAPAN I
KAMPUNG BIOLISTRIK SEBUAH KONSEP DESA DENGAN ENERGI LISTRIK MANDIRI
Fajri Hartanti B1J008034, Rarastyan Arum W. B1J008048
Dosen Pembimbing : Drs. Slamet Priyanto, M.S
JUARA HARAPAN II
POTENSI BIOMASSA SEL Kluyveromyces marxianus SEBAGAI ALTERNATIF DALAM MENGATASI DEFISIENSI LAKTASE PADA PENDERITA INTOLERANSI LAKTOSA
Ahmad Nailul Basid B1J007012, Fahmi Purnama Sari B1J007129, Mila Sari B1j007190
Dosen Pembimbing : Dra. Dini Ryandini, M.Si
Karya Sang Jawara
“PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG AMBON KUNING
(Musa paradisiaca var. sapientum) SEBAGAI CAMPURAN PAKAN UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS LARVA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)”
Yang digawangi oleh :
S OKTAVIA B1J007013 | L AGUSTIEN B1J007139 | W PURWANDARI B1J007182

Juara 1 KKTM 2009 (dari kiri-kanan: Widhita PURWANDARI, Linawati AGUSTIEN, Swastika OKTAVIA)
Berikut ringkasan dari karya tulis juara I :
RINGKASAN
Perikanan merupakan bagian penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Perikanan berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat serta meningkatkan pendapatan petani dan negara. Usaha peningkatan produksi ikan semakin digalakkan dalam rangka memenuhi kebutuhan protein. Tingkat konsumsi ikan diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), menyatakan bahwa tingkat konsumsi ikan nasional tahun 2008 mencapai 26 kg/kapita/tahun. Salah satu sumber daya perikanan yang mempunyai prospek baik adalah ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Ikan gurami dijadikan komoditas unggulan perikanan di beberapa daerah karena memenuhi beberapa kriteria, yaitu kelayakan ekonomi dan tingkat kesesuaian agroekosistem yang tinggi, orientasi pasar jelas, mudah dibudidayakan masyarakat dan mendapat dukungan kebijakan dari pemerintah.
Budidaya ikan gurami masih di jumpai kendala yang harus dihadapi para petani, salah satunya adalah penanggulangan stres pada ikan. Ikan dapat mengalami stres ketika kondisi lingkungan sekitarnya buruk, misalnya suhu lingkungan yang rendah. Stres akan menurunkan imunitas, sehingga mudah terserang penyakit, bahkan dapat menimbulkan kematian ikan. Kondisi stres akan menginduksi hipermetabolisme serotonin dalam otak ikan menyebabkan kadar serotonin menurun. Guna mengurangi stres pada ikan, termasuk gurami dapat diberikan serotonin eksternal.
Kulit pisang yang selama ini jarang dimanfaatkan dan hanya sebagai limbah, ternyata mengandung senyawa serotonin yang biasanya digunakan sebagai antidepresan dan dapat digunakan untuk meningkatkan imunitas ikan. Kandungan serotonin yang terdapat pada kulit pisang buah sebesar 31,8 μg/g. Dengan demikian, kulit pisang memiiki potensi sebagai sumber serotonin.
Beberapa permasalahan yang perlu dikaji lebih mendalam adalah:
- Bagaimana mekanisme serotonin dalam meningkatkan imunitas larva Ikan Gurami (O. gouramy Lac.)
- Bagaimana pemanfaatan kulit Pisang Ambon Kuning dalam meningkatkan imunitas larva Ikan Gurami (O. gouramy Lac.)
Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah metode deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder, yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku teks, artikel dan referensi pendukung yang lain.
Pemanfaatan kulit pisang untuk meningkatkan imunitas ikan dapat diberikan dalam bentuk pakan ikan, yaitu dengan mencampurkannya dengan pakan komersial. Pembuatan pakan merupakan alternatif metode yang tepat digunakan karena serotonin diambil dari kulit pisang dengan dibuat bubur sehingga menggurangi resiko tereduksinya serotonin dari kulit pisang karena proses pengambilannya. Beberapa peneliti telah berhasil membuat pakan ikan dengan mencampur bahan alami dengan pakan komersial.
Aktivitas serotonin untuk antidepresan dapat meningkatkan sistem imun pada ikan Gurami. Serotonin mengontrol regulasi level kortisol yang berperan penting dalam adaptasi ikan dan sebagai indikator saat ikan berada pada kondisi stres. Pengaturan sistem imun oleh serotonin mengakibatkan bertambahnya jumlah limfosit yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respon imun. Respon antibodi saat depresi pada ikan air tawar diatur oleh sistem hormonal. Limfosit ikan mengekspresikan reseptor glukokortikoid yang menekan sistem imun selama kondisi stres; dengan demikian serotonin disini berfungsi menghasilkan limfosit baik itu dalm bentuk sel T atau sel B, kedua sel tersebut berfungsi untuk meningkatkan sistem imun. Ikan mempunyai pengatur kimiawi (sitokin) yang disekresikan oleh sel imun khususnya makrofag. Interleukin (IL)-1 dan IL-2 yang merupakan suatu sitokin berperan dalam merangsang sel T untuk tumbuh dan membelah meningkatkan suhu tubuh.
Berdasarkan hasil telaah pustaka, analisis dan sintesis, dapat disimpulkan bahwa pakan ikan yang terbuat dari campuran serotonin dengan pakan komersial dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan sistem imun pada larva ikan Gurami.
JUARA KE-2
Sistem Tambak Terpadu sebagai Upaya Budidaya Perikanan Berkelanjutan
Oleh:
Diah Tri Utami B1J007027
Afifah Nur Shobah B1J007026

Ringkasan
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau sekitar 17.508 buah dan panjang garis pantainya mencapai 81.000 km. Hal ini merupakan potensi untuk pengembangan budidaya perikanan, terutama perikanan air payau. Budidaya perikanan payau sangat didukung pemerintah dengan mengeluarkan berbagai program yang bertumpu pada upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pertambakan. Indonesia adalah salah negara yang memiliki budidaya perikanan tambak dan salah satu komoditas yang dihasilkan adalah udang. Produksi udang Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penurunan produksi memberikan pengaruh terhadap jumlah ekspor udang Indonesia. Hal ini berdampak pada penurunan jumlah ekspor udang dan mengakibatkan kerugian sebesar US $ 281.552.000. Penurunan produksi ini merupakan akibat dari serangan virus penyakit terutama oleh bakteri Vibrio harveyi dan virus WSSV.
Pengelolaan tambak di Indonesia selama ini menggunakan pengelolalaan tambak secara intensif, semi intensif dan tradisional. Penggunaan bahan kimia seperti pestisida, pupuk organik dan pakan buatan yang mengandung antibotik pada tambak intensif dapat menghambat pertumbuhan virus dan menurunkan kualitas hasil tambak. Mengingat banyaknya kendala yang dihadapi dalam pengelolaan tambak selama ini, maka diperlukan adanya sistem pengelolaan tambak yang dapat memperkecil kendala yang ada. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa adanya mangrove di dalam tambak dapat meningkatkan produktifitas perikanan tambak.
Penulisan karya tulis mahasiswa ini bertujuan untuk mengkaji tambak terpadu sebagai upaya mewujudkan budidaya perikanan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi perikanan. Karya tulis mahasiswa ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang sistem tambak terpadu sebagai upaya mewujudkan budidaya perikanan berkelanjutan, membantu dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi perikanan. Penulisan karya tulis mahasiswa ini dilakukan sejak tanggal 11 November 2009 sampai dengan tanggal 28 November 2009 bertempat di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Data yang digunakan adalah data sekunder, yang bersumber dari jurnal ilmiah, buku teks dan referensi pendukung lainnya.
Metode penulisan yang digunakan dalam karya tulis mahasiswa ini adalah metode deskriptif analitis yaitu: 1) mengidentifikasi permasalahan berdasarkan data dan fakta yang ada. 2) menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lain. 3) mencari alternatif pemecahan masalah, yaitu memberikan deskripsi mengenai tambak terpadu sebagai upaya mewujudkan budidaya perikanan air payau berkelanjutan. Sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis mahasiswa ini mengacu pada Pedoman Umum Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional 2009.
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa mangrove mempunyai peran yang penting dalam budidaya perikanan tambak. Keberadaan mangrove di areal tambak dapat meningkatkan produktifitas tambak. Hal ini didasarkan pada fungsi dari mangrove sebagai nursery grounds, feeding grounds dan spawning grounds untuk berbagai jenis biota laut seperti ikan, udang dan kepiting. Tambak terpadu terdiri dari beberapa bagian yaitu: jalur hijau, kolam reservoir, kolam pakan, kolam pembenihan, kolam peralihan dan kolam pembesaran. Pembuatan jalur hijau dilakukan dengan cara menanam mangrove sepanjang pantai yang lebarnya minimal 200 m diukur dari garis pasang terendah. Kolam reservoir berada di belakang jalur hijau (green belt). Luas kolam reservoir paling sedikit 25% dari luas kolam pembesaran dengan kedalaman kolam reservoir adalah 1 m. Pembuatan kolam pakan dilakukan dekat dengan kolam pembenihan untuk mempermudah pemberian pakan ke larva ikan dan benur. Luas kolam pakan ini berkisar antara 0,75-1 m2 dengan kedalaman 1 m. Kolam pembenihan digunakan untuk pemeliharaan benih dengan ketinggian air sekitar 1-1,5 m dengan luas sebesar 1% dari total lahan. Kolam peralihan digunakan untuk pemeliharaan benih dengan ketinggian air sekitar 0,75-1 m. Luas kolam dapat mencapai 6% dari total lahan yang digunakan. Luas kolam pembesaran adalah 50% – 75% dari total luas tambak budidaya dengan kedalaman 1,5-2 m. Kolam pembesaran ini paling luas di antara kolam-kolam yang lain. Lebar mangrove yang berada di dalam kolam pembesaran adalah sebesar 85% dari total luas kolam pembesaran.
Pembuatan jalur hijau (green belt) dapat difungsikan sebagai filter air yang masuk tambak dari penyakit ikan atau udang yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kolam reservoir tambak terpadu ditanami dengan rumput laut jenis Gracilaria sp. yang menjadi penyuplai oksigen di perairan tambak, dengan begitu jumlah oksigen terlarut dalam air dapat terjaga. Kultur Spirulina sp. dilakukan di dalam kolam pakan. Spirulina sp. dapat ditumbuhkan kedalam media yang mengandung komposisi makronutrien dan mikronutrien yang sesuai. Benih yang akan dimasukan ke dalam kolam pembenihan terlebih dahulu diaklimatisasi. Aklimatisasi benih di dalam kolam pembenihan dilakukan selama 30 – 60 menit. Benih dipelihara di kolam pembenihan selama 2 – 5 minggu sebelum dimasukan ke dalam kolam pemeliharaan selanjutnya. Kepadatan benih di kolam pembenihan adalah 5000-7000 ekor/ ha.
Keunggulan sistem tambak terpadu Sebagai Upaya Budidaya Perikanan Berkelanjutan adalah 1) Kondisi perairan tambak lebih baik, 2) Ikan yang dibudidayakan di tambak terpadu mempunyai sintasan tinggi, 3) menghasilkan Ikan organic (bebas pestisida dan bahan kimia lain, 4) Produksi perikanan meningkat dan 5) Tercipta perikanan berkelanjutan (sustainable brackhiswater culture)
Berdasarkan analisis permasalahan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) tambak terpadu dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi perikanan dan 2) tambak terpadu dapat mewujudkan budidaya perikanan berkelanjutan (sustainable brackishwater culture). Dari hasil kajian dan analisis seperti yang telah diuraikan di atas dapat di sarankan untuk melakukan sistem budidaya tambak yang tepat pada kawasan mangrove yaitu dengan perpaduan antara budidaya tambak dan hutan mangrove, karena dengan menggunakan perpaduan antara keduanya akan mewujudkan sistem budidaya perikanan yang berkelanjutan.
JUARA KE-3
KEBUN TANAMAN OBAT HERBA BATURRADEN SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN MASYARAKAT SEHAT BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL
Oleh :
TANTRI ANALISAWATI S. B1J007022 | SARAH FEBRIANI B1J007024

RINGKASAN
Kualitas lingkungan yang rendah merupakan penyebab timbulnya beragam penyakit, seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), scabies, diare dan demam berdarah dengue (DBD). Penyakit-penyakit ini banyak terjadi di beberapa negara berkembang, salah satunya Indonesia.
Pengobatan terhadap berbagai penyakit terus diperbaharui. Obat-obatan sintetik merupakan pilihan pertama karena dinilai lebih praktis, mudah diperoleh dan efektif. Akan tetapi, residunya dapat tertimbun dalam tubuh dan menimbulkan penyakit lain.
Menanggapi hal tesebut, masyarakat mulai beralih menggunakan tanaman herbal sebagai obat untuk menyembuhkan beragam penyakit. Salah satu jenis tanaman tersebut adalah herba. Hal ini dikarenakan obat-obatan alami dinilai lebih aman, efektif dan efisien serta reaksi kerjanya lebih cepat dari tanaman obat berupa pohon.
Pengembangan tanaman obat melalui pembuatan kebun tanaman obat telah dilakukan baik di dalam maupun luar negeri. Kebun tanaman ini memiliki beberapa spesies introduksi seperti ketumbar, seledri, ginseng dan kayu manis. Kehadiran spesies introduksi merupakan kendala baru dalam pengembangan tanaman obat, terutama spesies lokal.
Indonesia sebagai salah satu negara yang berstatus megabiodiversitas memiliki beragam tanaman herba yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Baturraden merupakan salah satu kawasan dataran tinggi yang terdapat di lereng selatan Gunung Slamet propinsi Jawa Tengah. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Slamet memiliki tanah yang subur yang dapat ditumbuhi beragam tanaman obat. Melihat potensi tersebut maka kawasan Baturraden memiliki kemungkinan untuk di bangun kebun obat sehingga perlu dibahas lebih mendalam mengenai:
- apakah kawasan Baturraden memiliki potensi untuk dibangun kebun tanaman obat herba?
- apakah kebun tanaman obat herba Baturraden dapat mewujudkan masyarakat sehat berbasis keunggulan lokal?
Tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk mengkaji kebun tanaman obat herba Baturraden sebagai sarana untuk mewujudkan masyarakat sehat berbasis keunggulan lokal. Lebih lanjut, manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini adalah dapat memberikan informasi ilmiah tentang kebun tanaman obat herba Baturraden, membantu mewujudkan masyarakat sehat, menggali potensi lokal dan mendukung upaya konservasi tanaman obat herba lokal.
Baturraden merupakan kawasan yang terletak di lereng selatan Gunung Slamet dengan kondisi klimatologi yaitu suhu berkisar 18oC hingga 25oC, kelembaban 75% hingga 95%, curah hujan 5.000 mm/tahun sampai 6.174 mm/tahun dan beriklim sejuk. Baturraden dikelilingi oleh hutan cagar alam dengan flora dan fauna yang terjaga kelestariannya.
Herba merupakan tanaman tidak berkayu, bagian batangnya mengandung air dan hidup di daerah agak lembab. Berdasarkan masa perkembangannya, herba dibagi menjadi tiga macam yaitu herba anual, bianual dan perenial. Herba dapat dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, pengharum ruangan, hiasan dan obat.
Kebun merupakan salah satu sarana untuk menjaga kelestarian tanaman obat. Pemanfaatan lahan sebagai kebun obat dapat meningkatkan nilai guna lahan, karena tanaman dapat berfungsi ganda yaitu sebagai tanaman hias dan bahan baku obat tradisional.
Jenis tanaman obat yang dibudidayakan harus memenuhi syarat tidak memerlukan perawatan khusus, tidak mudah terserang hama penyakit, bibitnya mudah diperoleh, mudah tumbuh dan tidak termasuk jenis tanaman terlarang atau berbahaya. Berdasarkan informasi tersebut, herba merupakan jenis tanaman yang tepat untuk ditanam di kebun obat. Pemanfaatan tanaman obat tradisional, salah satunya herba untuk menanggulangi beragam penyakit juga telah direkomendasikan oleh WHO.
Berdasarkan informasi diatas maka obyek penulisan karya tulis ini adalah kebun tanaman obat herba Baturraden sebagai upaya mewujudkan masyarakat sehat berbasis keunggulan lokal. Penulisan karya tulis ini didasarkan pada pemanfaatan tanaman obat untuk mengobati beragam penyakit yang semakin diminati, Baturraden memiliki beragam tanaman obat herba lokal dan memiliki tanah yang subur yang memungkinkan untuk dibangun kebun tanaman obat. Penulisan dilakukan sejak tanggal 18 Januari 2009 sampai 28 Februari 2009 di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman melalui tahapan penggalian ide, penulisan, perbaikan dan pengkajian terhadap materi tulisan. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dan metode pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran jurnal ilmiah, buku teks dan informasi pendukung lain, sedangkan metode penulisan yang digunakan adalah deskriptif analitis.
Baturraden merupakan kawasan yang tepat untuk membudidayakan beberapa tanaman obat herba. Beberapa peneliti telah berhasil mengeksplorasi tanaman obat di Baturraden yaitu Zingiberaceae, Acanthaceae, Amaranthaceae, Apiaceae, Asteraceae, Begoniaceae, Campanulaceae, Cyperaceae, Euphorbiaceae, Graminaeae, Malvaceae, Mellastomataceae, Piperaceae, Rubiaceae, Selaginellaceae dan Verbenaceae.
Pembuatan dan perawatan kebun tanaman obat Baturraden dilakukan melalui tahapan pemilihan lokasi dan penyiapan lahan, penanaman tanaman obat herba dan perawatan kebun. Lokasi yang dipilih harus sesuai dengan syarat tumbuh tanaman herba. Herba dapat tumbuh di lingkungan yang kering, pH 6,3 sampai 6,8 dan suhu 15oC sampai 21oC. Lahan yang telah disiapkan kemudian diolah. Pengolahan dilakukan dengan cara pembersihan lahan, pencangkulan dan pemupukan. Penanaman tanaman herba dilakukan secara vegetatif yang dilakukan secara langsung dengan menanam rimpang atau ditunaskan lebih dulu. Adaptasi bibit dilakukan dengan menanam bibit dalam polybag selama 6 minggu dan diberi naungan. Bibit tanaman ditanam secara monokultur. Perawatan kebun yang dilakukan meliputi perawatan elemen keras dan lunak, sedangkan periode perawatannya dilakukan secara periodik yaitu harian, mingguan, bulanan, triwulan, semesteran, tahunan dan insidental.
Kebun tanaman obat herba Baturraden, selain dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku obat herba (agromedisin) juga sebagai agrowisata dan sumber plasma nutfah. Pembangunan kebun tanaman obat herba Baturraden memiliki beberapa keunggulan yaitu mendapat dukungan baik dunia internasional maupun nasional, mencegah hilangnya spesies lokal akibat beberapa tekanan lingkungan maupun spesies introduksi, berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dengan perannya sebagai pusat penelitian tanaman obat, dan juga berperan di bidang agribisnis, agroindustri dan agrotourism yang dapat meningkatkan devisa negara dan membuka lapangan pekerjaan.
Berdasarkan analisis dan sintesis diatas maka dapat disimpulkan bahwa Baturraden merupakan kawasan yang tepat untuk dibangun kebun tanaman obat herba dan tanaman obat herba indigenous Banyumas dapat diolah sebagai obat tradisional untuk mewujudkan masyarakat sehat. Adapun saran yang penulis ajukan adalah perlu dibangunnya kebun tanaman obat herba di kawasan Baturraden Banyumas untuk mewujudkan masyarakat sehat dan perlu adanya penelitian mengenai tanaman obat herba lokal baik aspek biologi, ekologi, fitokimia dan pemanfaatannya untuk mengobati beragam penyakit.