Produksi rumput laut Gracilaria gigas Harv. di Indonesia masih ditopang dari hasil dari panen alami, sehingga kualitas maupun kuantitasnya sulit dipertahankan. Budidaya rumput laut secara intensif dan ekstensif perlu dikembangkan untuk meningkatkan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi basah rumput laut G. gigas Harv. menggunakan dua sistem budidaya tali tunggal dengan berat awal yang berbeda, serta untuk mengetahui sistem budidaya mana dan berat awal berapa yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi basah yang paling tinggi pada budidaya rumput laut G. gigas Harv. di perairan Selok, Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimental dengan pola Split Plot yang diulang empat kali. Perlakuan-perlakuan yang dicobakan adalah sistem budidaya sebagai main plot yang terdiri dari sistem tali tunggal (monoline) tertutup dan sistem tali tunggal (monoline) terbuka, sedangkan subplotnya adalah berat awal yaitu 50 g, 100 g dan 150 g. Variabel utama yang diamati adalah pertambahan berat basah dan produksi rumput laut. Parameter pendukung yang diukur meliputi derajat keasaman (pH), salinitas, suhu, dan kecerahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tali tunggal dan berat awal yang berbeda menghasilkan pertumbuhan dan produksi G. gigas Harv. yang berbeda. Perlakuan menggunakan sistem tali tunggal tertutup dengan berat bibit 50 g menghasilkan pertumbuhan G. gigas Harv. paling baik sebesar 2,275 g/hari dan produksi tertinggi sebesar 627,9 g/m2.
UDY SETIAWAN | B1J003063
Pembimbing I : Dra. Dwi Sunu Widyartini, M.Si. | Pembimbing II : Drs. H. A. Ilalqisny Insan, M.S.
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) salah satu jenis jamur edible yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sudah dikembangkan di Indonesia. Dalam pembudidayaanya, jamur tiram putih dapat ditumbuhkan pada serbuk gergaji kayu yang mengandung lignoselulosa dengan penambahan kapur, gips dan bekatul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi medium tanam kayu mahoni, kayu kelapa dan kayu sengon dengan perlakuan waktu inkubasi yang berbeda-beda terhadap kemampuan biodelignifikasi tertinggi. Faktor I adalah jenis kayu (K) terdiri atas kayu mahoni (K1), kayu kelapa (K2) dan kayu sengon (K3). Faktor II adalah waktu inkubasi (W) terdiri atas 0 hari (W1), 15 hari (W2), 30 hari (W3) dan 45 hari (W4). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (Uji F) data yang berpengaruh nyata atau sangat nyata dilanjutkan dengan Uji BNT pada tingkat kesalahan 5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis kayu dan waktu inkubasi tidak berpengaruh nyata terhadap persentase kadar lignin substrat, namun secara mandiri jenis kayu yang digunakan (kayu mahoni, kayu kelapa dan kayu sengon) masing-masing memberikan perbedaan yang nyata terhadap kadar lignin akhir, begitu pula dengan waktu inkubasi yang berbeda (0 hari, 15 hari, 30 hari dan 45 hari) secara mandiri masing-masing memberikan perbedaan yang nyata terhadap kadar lignin akhir. Kemampuan jamur tiram putih dalam mendelignifikasi terbaik diperoleh pada medium dari substrat serbuk gergajian kayu sengon sebesar 27,1% dan waktu inkubasi 45 hari yaitu sebesar 28,58%.
FAULINDA APRIYANI | B1J005091
Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M. S. | Pembimbing II : Dra. Purnomowati, S. U.
Azospirillum sp. KK1 diketahui memiliki aktivitas enzim ekstraseluler yang penting dalam degradasi makronutrien kompleks pada media campuran dedak dan onggok. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan Azospirillum sp. KK1 dalam meningkatkan kandungan nutrien serta mengetahui waktu inkubasi terbaik yang diperlukan Azospirillum sp. KK1 dalam meningkatkan kandungan nutrien campuran dedak dan onggok. Penelitian dilakukan secara eksperimental, dengan menggunakan Rancang Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang dicobakan adalah waktu inkubasi (T) 0, 3, 4, 5, 6 dan 7 hari. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati adalah jumlah populasi sel, kadar protein kasar, kadar lemak kasar dan kadar serat kasar. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis Ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan waktu inkubasi berpengaruh sangat nyata terhadap kandungan nutrien campuran dedak dan onggok yang difermentasi oleh Azospirillum sp. KK1. Uji dilanjutkan dengan uji Beda nyata Jujur (BNJ) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Jumlah populasi Azospirillum sp. KK1 tertinggi didapatkan pada waktu inkubasi hari ke-5 sebesar 8,17 ± 0,74 log cfu/ml. Kadar protein kasar tertinggi didapatkan pada waktu inkubasi hari ke-5 sebesar 9,73 ± 0,03 %. Rata-rata kadar lemak kasar cenderung mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan kontrol. Kadar serat kasar terendah didapatkan pada hari ke-3 sebesar 14,02 ± 0,74 %. Waktu inkubasi terbaik yang diperlukan Azospirillum sp. KK1 dalam meningkatkan kandungan nutrien campuran dedak dan onggok didapatkan pada hari ke-5.
DIDI RAHMANTO | B1J005110
Pembimbing I : Drs. Oedjijono, M.Sc. | Pembimbing II : Dr. Ir. Ning Iriyanti, M.P.
Penelitian yang berjudul ”Keanekaragaman dan Pemanfaatan Tanaman Buah di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas” dilakukan pada bulan Juli 2009 dan bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan pemanfaatan tanaman buah di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Materi yang digunakan adalah tanaman buah yang terdapat di pekarangan wilayah Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas, sublimat dan alkohol 70 %. Alat-alat yang digunakan antara lain kamera, penggaris, kertas koran, kertas herbarium, kertas label, gunting tanaman dan kantong plastik. Metode penelitian adalah metode survai. Sampel tumbuhan diambil secara acak terpilih di 10 desa dari 19 yang ada di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Tiap desa diambil 10 pekarangan yang terdapat jenis-jenis tanaman buah. Data yang diambil berupa jenis, pemanfaatan dan jumlah individu tanaman buah. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan diperoleh 26 jenis dan 18 suku. Tanaman buah yang paling banyak ditemukan yaitu Musa paradisiaca L., sedangkan tanaman buah yang sedikit ditemukan adalah Spondias dulcis Forst. Manilkara achras L., Cynometra cauliflora L., Pometia pinnata J.R. & G. Forster. Pemanfaatan tanaman buah oleh masyarakat setempat adalah buah sebagai buah meja, kayu untuk kayu bakar dan bahan bangunan, beberapa jenis dijual dan untuk obat tradisional. Tanaman buah yang memiliki niali manfaat tertinggi adalah Musa paradisiaca L. cv. Ambon Lumut yaitu sebesar 4,7, sedangkan tanaman yang memiliki nilai manfaat terendah adalah Cynometra cauliflora L.; Syzygium polycephalum (Miq.) Merr. & Perry dan Pometia pinnata J.R. & G. Forster yaitu sebesar 2.
DARSINI | B1J005179
Pembimbing I : Dra. Yayu Widiawati, MS. | Pembimbing II : Dra. Hexa Apriliana Hidayah, MS.
Usaha pengembangan budidaya anggrek Dendrobium salah satunya adalah dengan penyediaan bibit dan syarat penting yang perlu diperhatikan adalah penggunaan media tumbuh. Beberapa jenis media yang dapat digunakan untuk anggrek Dendrobium antara lain: pakis dan arang sekam. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh komposisi arang sekam dengan pakis sebagai media aklimatisasi terhadap pertumbuhan Dendrobium sp. dan menentukan komposisi arang sekam dengan pakis sebagai media aklimatisasi Dendrobium sp. yang paling baik. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah bibit Dendrobium sp. botolan yang sudah berakar dan siap dikeluarkan dari botol, media pakis, media arang sekam, pupuk cair, dan pestisida. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima ulangan dan perlakuan jenis media yang terdiri dari 5 kombinasi yaitu : P1 : Pakis 100 %, P2 : Arang sekam 100 %, P3 : Pakis 75 %, arang sekam 25 %, P4 : Pakis 50 %, arang sekam50%, dan P5 : Pakis 25 %, arang sekam 75 %. Pemupukan dilakukan satu minggu 2x. Variabel utama dalam penelitian ini adalah: pertambahan panjang daun, lebar daun, jumlah akar, panjang akar, dan jumlah anakan. Sedangkan variabel penunjangnya adalah suhu udara, kelembapan udara, intensitas cahaya, dan kandungan N, P, K, dari masing-masing komposisi media. Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi arang sekam dan pakis sebagai media aklimatisasi tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium sp.
MEIDINA ROSANTI | B1J005035
Pembimbing I : Dra. Kamsinah, MP | Pembimbing II : Dra. Sulastri Anggorowati, MS
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi media moss dan arang sekam dengan interval pemberian vitamin B1 terhadap pertumbuhan vegetatif Cattleya sp. dan mengetahui kombinasi media moss dan arang sekam dengan interval pemberian vitamin B1 yang paling baik untuk pertumbuhan vegetatif Cattleya sp. Materi yang digunakan dalam penelitian adalah bibit anggrek Cattleya sp., media tanam anggrek (moss dan arang sekam), vitamin B1, pupuk dan pestisida. Penelitian dilakukan secara experimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama yaitu media, yang terdiri dari media moss dan arang sekam dengan presentase yang berbeda, yaitu M1 (100% moss), M2 (100% arang sekam), M3 (75% moss, 25% arang sekam), M4 (50% moss, 50% arang sekam), dan M5 (25% moss, 75% arang sekam). Faktor kedua yaitu interval pemberian vitamin B1, yang terdiri dari V1 (pemberian vitamin 4 hari sekali), V2 (6 hari sekali), dan V3 (8 hari sekali). Sehingga terdapat 15 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Parameter utama dalam penelitian ini adalah pertumbuhan anggrek yang meliputi panjang daun, lebar daun, jumlah akar, panjang akar, jumlah anakan. Parameter pendukung yaitu kandungan N, P, K media tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media moss dan arang sekam dengan interval pemberian vitamin B1 tidak berpengaruh terhadap semua parameter pertumbuhan bibit Cattleya sp.
ETY SETYOWATI | B1J005067
Pembimbing I : Dra. Kamsinah, MP | Pembimbing II : Drs. Iman Budisantoso, MP
Studi terdahulu tentang pemuasaan dan pemberian pakan kembali dapat meningkatkan pertumbuhan pada ikan, tetapi status fisiologi yang mendukung pertumbuhan C. gariepinus belum dilaporkan dalam literatur . Pembatasan pemberian pakan telah terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan. Pertumbuhan cepat yang dimaksud adalah pertumbuhan kompensatori. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju metabolisme dan profil darah ikan lele dumbo (C. gariepinus) yang diinduksi dengan pembatasan pakan secara periodik dan metode pembatasan pakan yang dapat menginduksi laju metabolisme dan profil darah yang mampu mendukung pencapaian produksi optimal ikan lele dumbo (C. gariepinus). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan lele dumbo (C. gariepinus) berukuran 9,57 ± 0,66 gram/ekor. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan dasar yaitu, rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan diulang sebanyak 6 kali. Perlakuan yang dicobakan meliputi: (1) ikan lele yang diberi pakan secara normal setiap hari (PO atau kontrol), (2) ikan lele yang tidak diberi pakan pada hari Senin dan Kamis (P1) dan (3) ikan lele yang mengalami daur pembatasan pakan periodik 2/5, dalam seminggu 2 hari tidak diberi pakan dan 5 hari diberi pakan (P2). Data laju metabolisme dan profil darah yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan one way analysis of variance (ANOVA) menggunakan SPSS versi 13.0 Windows software. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuasaan secara periodik tidak berpengaruh terhadap laju metabolisme. Jumlah eritrosit tertinggi pada P1 tidak berbeda nyata dengan P0 dan P2. Pemuasaan tidak berpaengaruh terhadap jumlah leukosit pada setiap perlakuan. Kadar hemoglobin berbeda nyata antara P dengan P1 dan P0. Hematokrit pada P1 (39,5 ±1,09%) tidak berbeda nyata dengan P0 dan P2. Pemuasaan secara periodik tidak mempengaruhi osmolalitas plasma. Glukosa darah pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata. Pemuasaan secara periodik tidak berpengaruh terhadap laju metabolisme dan profil darah pada ikan Lele Dumbo (C. gariepinus).
WIWIT FATMAWATI | B1J005096
Pembimbing I : Dra. Farida Nur Rachmawati, M.Si. | Pembimbing II : Drs. Untung Susilo, MS.
Diabetes mellitus tipe-2 merupakan penyakit diabetes mellitus yang tidak bergantung pada insulin. Penyakit ini mengakibatkan stress oksidatif, hal ini disebabkan karena radikal bebas meningkat sehingga menurunkan status antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan aktivitas enzim katalase dan kadar haemoglobin penderita DM tipe-2 yang disuplementasi susu protein kecambah kedelai dan Zn. Metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Responden terdiri dari 24 wanita penderita DMT-2, usia diatas 40 tahun dan banyaknya responden dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu A, B dan C. Setiap perlakuan diulang 8 kali sehingga diperolah 24 unit sampel. Perlakuan yang dicibakan meliputi susu protein kecambah kedelai yang diperkaya Zn untuk kelompok perlakuan A, placebo yang diberi susu tanpa protein kecambah kedelai dan Zn untuk kelompok perlakuan B dan glibenklamid sebagai kontrol untuk kelompok perlakuan C. Masing-masing perlakuan diintervensikan kepada responden setiap hari selama 2 bulan. Pengambilan sampel darah dilakukan saat sebelum intervensi (baseline), satu dan dua bulan setelah intervensi. Variabel yang digunakan adalah pengaruh pemberian susu protein kecambah kedelai dan Zn dibandingkan dengan placebo. Parameter yang diukur adalah aktivitas enzim katalase dan kadar haemoglobin. Pengukuran aktivitas enzim katalase dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV, sedangkan penentuan kadar hemoglobin dilakukan dengan MIKROS 60 OT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian susu protein kecambah kedelai + Zn selama 2 bulan intervensi memberikan pengaruh yang nyata terhadap aktivitas enzim katalase dan mempertahankan kadar normal haemoglobin responden.
NANI MUDRIKAH | B1J005180
Pembimbing I : Dra. Farida Nur Rachmawati, M.Si. | Pembimbing II : Dr. Ir. Hery Winarsi, MS.
Azospirillum sp. JG3 diketahui mampu hidup pada media campuran onggok dan dedak serta menghasilkan enzim ekstraseluler untuk merombak senyawa kompleks pada media tersebut. Kemampuan mikroba tersebut berkaitan dengan adanya peningkatan kandungan nutrien bahan yang difermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Azospirillum sp. JG3 dalam meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak, mengetahui pengaruh waktu inkubasi berbeda terhadap kemampuan Azospirillum sp. JG3 dalam meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak tertinggi. Percobaan dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan waktu inkubasi 0, 3, 4, 5, 6, dan 7 hari. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Azospirillum sp. JG3 mampu meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak. Hal ini diindikasikan dengan adanya peningkatan kadar protein kasar (37,81%), dan penurunan kadar serat kasar (36,63%) selama waktu inkubasi berbeda. Kemampuan Azospirillum sp. JG3 untuk meningkatkan kandungan nutrien onggok dan dedak tertinggi diperoleh pada waktu inkubasi 5 hari dengan kadar protein kasar, serat kasar dan lemak kasar masing-masing sebesar 8,95 ± 0,44%, 14,31 ± 0,70% dan 15,53 ± 0,75%.
TATI FEBRIANTI | BIJ005213
Pembimbing I : Drs.Oedjijono, M.Sc. | Pembimbing II : Dr.Ir.Ning Iriyanti, M.P.
Antibiotic was natural chemical product of secondary metabolisme of microorganism that widely used in medical area. Discovery of new antibiotic was continuously performed to solve resistance on existing one of it was mold that associated with a plant called endophyte mold. Medicine plant represent one of criteria for endophyte mold isolate source. Objectives this research was to know type of endophyte mold that has potential as antibiotic producer and to know type of endophyte mold that has potential as antibiotic producer by morphologically or genetically identification. The research was held in Microbiology, Recovery, and Gene Technology Laboratory of Balai Pengkajian Bioteknologi-BPPT PUSPITEK from June 2009 to February 2010. Initial study of antibiotic activity was conducted to know endophyte mold that has antibiotic activity, followed by confirmatory test for antibiotic activity to know whether the mold that showed positive result in initial study also positive in confirmatory test. The endophyte mold then identified morphologically or genetically to know it type. Initial study result of antibiotic activity of 49 isolates tested, there were 18 isolates showed antibiotic activity. Confirmatory test result was 14 isolates showed difference in inhibitory ability. The case showed difference in extraction ability of the endophyte mold in ability to inhibit experimental microbes. BioMCC FE00097 was isolate that has potential as antibiotic producer for inhibit C.albicans. The isolate type was known 100% closely related with Eupenicillium sp. RA403 dan Penicillium sp. RA302 that also represents antibiotic producer.
RANI AFIFAH NUR HESTIYANI | B1J005088
Pembimbing I : Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, M.S. | Pembimbing II : Evita Chrisnayanti, MBiotech. St.